Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

20/07/14

Pembangunan Karakter

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

…Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

04/02/14

KEPADA BUMI MAGHRIBY

“Kepada segenap dingin yang menyelusuri
Lindungi aku
Selimuti aku
Damaikan hatiku
Fahamkan setiap belajarku
Tutupi semua kesedihanku
Kepadamu
Kini aku mencari ilmu”

Senin subuh kala pagi itu, aku lihat berbondong orang melangkahkan kaki satu persatu mendekati pintu rumahku, ini merupakan sebagian dari tradisi kecil dalam keluargaku, siapa saja yang akan bepergian jauh dilepas sambil didoakan, agar berangkat berbekal dengan banyak ayat dan doa yang telah dilantunkan dari banyak orang. Namun tak ada yang aku perhatikan selain: bagaimana bisa akhirnya aku tiba pada hari itu, hari yang tidak pernah aku mengerti, bagaimana aku memiliki banyak kekuatan untuk melangkahkan kaki begitu jauh dari bumi Pertiwi , bagaimana aku berdiri dan bangkit dari tidur lama ku ini, tak pernah aku mengerti bagaimana Tuhan membawaku untuk bisa lari, mau memulai untuk berjalan lagi, menghimpun segala keterpurukan yang berserak di sana-sini, memunguti keberanian yang baru aku dapatkan pagi itu sendiri. Maka hari itu adalah hari ku dilepas pergi.


30/01/14

Air Mata Aisyah

 “Aku melihat dirimu dalam mimpi selama tiga malam. Engkau datang bersama malaikat terbungkus dengan kain sutra. Malaikat tersebut berkata, “ Ini adalah istrimu!” Kemudian aku buka kain itu dan ternyata engkau berada di dalamnya. Maka aku katakan. “ Sesungguhnya menikahimu adalah perintah dari Allah”.(H.R.Bukhari Muslim). 

            Alkisah, kejadian ini berawal saat Rasulullah SAW berpulang dari perang Bani Mustholiq pada tahun ke-5 Hijriyah, dan hendak kembali ke Madinah bersama para pasukannya. Peperangan ini juga diikuti oleh istri beliau Aisyah RA. Dalam perjalanan pulang, Aisyah bersiap dan berjalan menuju unta tunggangannya, ketika dia hendak naik, ternyata kalungnya yang terbuat dari mutiara zifar (zifar adalah nama kota di Yaman) tidak lagi menempel pada lehernya, dia pun kembali dan mencari kalungnya. Di sisi lain orang-orang yang bertugas mengawal dirinya pun telah memasukkan barang-barang lainnya, mereka mengira bahwa Aisyah sudah masuk dalam sekedup itu, sedangkan rombongan para sahabat lainnya sudah berjalan jauh meninggalkan dirinya. Setelah lama mencari kalungnya yang hilang, dia menemukannya dan kembali menuju ke tempat peristirahatan pasukan. Ternyata dia tidak mendapati seorangpun disana, lalu dia berjalan ke tempat semula dimana dirinya berpisah dengan rombongan berharap mereka menyadari bahwa dirinya tertinggal dan kembali menjemputnya. Rasa kantuk akibat lelah datang saat dia duduk menanti jemputan, dan akhirnya tertidur ditempat itu. Sesaat setelah itu, ada sebagian kelompok yang sengaja berangkat akhir setelah pasukan pertama, diantara mereka adalah Shofwan bin Muaththal As-Sulami yang mendapati Aisyah tergeletak di tempat itu. Shofwan segera menghampirinya dan beristirja’ (Red: Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun) melihatnya tergeletak di tempat itu. Aisyah terbangun lantaran terdengar suara orang dibelakangnya.

25/01/14

Tekad dan Keinginan

“Ya Allah, Aku titipkan kepadaMU kedua orangtuaku dan familiku yang berada di jauh sana. Jaga mereka. Cintai dan sayangi mereka. Jauhkan mereka dari segala marabahaya. Hanya kepadaMU Aku meminta dan menitipkan mereka semua.” (wardatun hamra)

Memang tak pernah  terlintas dalam benakku, untuk dapat berada di sini. Ya di Negri 1000 benteng ini. Mimpiku memang aku ingin menggali ilmu di luar negri. Bukan karena gengsi atau apalah. Namun ketahuilah, kebanyakan ilmu-ilmu islami itu berada di Luar Negri. Satu yang sudah menjadi impianku adalah Mesir. Entah mengapa aku amat sangat ingin menjadi salah satu pelajar indonesia yang berada di sana guna menggali ilmu bersama pelajar-pelajar indonesia lainnya. Aku tahu bukan  hal yang mudah untukku  bisa berada di sana. namun, karena tekad dan keinginanku segala daya dan upaya akan aku  lalukan. Demi mendapatkan apa yang aku inginkan.

Perjuangan dan Asa Menuju Negeri Seribu Benteng

Termenung. Pandanganku kosong. Suasana sericuh apapun, pramugari se-aduhai apapun, tetap tak terusik. Bahkan ketika pramugari bertanya “rice or noodle?”, hanya sedikit tersentak, menjawab seadanya, tak peduli apa yang ia lakukan pada meja pesawat di depanku, dan kembali pada lamunanku. Masih tak percaya bahwa kini kakiku tak lagi menyentuh tanah air. Terbang dalam pesawat. Menatap kosong layar hiburan didepanku, tanpa menghiraukan suara yang keluar dari headset yang aku kenakan. Ingatanku berputar, berhenti pada perpisahan bersama bapak-ibu di bandar udara Juanda. Pertemuan terakhir kami, jabat tangan terakhir, dan kecupan terakhir sebelum perantauan ini dimulai. Beliau hanya mengantarku sampai Juanda, tak ada biaya untuk tiket pulang pergi dari Surabaya menuju Jakarta dan kembali ke Surabaya lagi. Sedih sekali, melihat kawan-kawan lain menyaksikan lambai dan senyum terakhir keluarga mereka hingga menjelang keberangkatan, dan disaksikan kepergiannya. Sedikit terusik dengan peristiwa itu, kuputar kembali ingatanku. Lama. Jauh. Pada peristiwa sekitar setengah tahun silam.

            Jumat, 24 Mei 2013.

Pengumuman hasil ujian nasional untuk tingkat SMA/MA sederajat, dimana konflik

Akhir Indah Sebuah Perjuangan

    Jarum jam menunjukan panah panjangnya tepat pada angka satu, sedangkan  adiknya yang pendek tepat pada angka 12. Waktu dimana keberangkatan ke medan perang hanya tersisa beberapa kedipan mata saja, saat dimana peperangan sudah di depan mata, perjuangan sudah di mulai, niat dan gigihnya kekuatan sudah waktunya untuk di bulatkan. 22 sepetember 2013 sejarah mencatat tanggal, tanggal dimana saya tinggalkan Indonesia, tanggal dimana saya bersama prajurit prajurit kecil yang berjiwa besar , saya bersama para syuhada memulai mengangkat senjata. Tetapi mungkin perang yang saya hadapi ini berbeda dengan peperangan di zaman rosulullah Saw, ini bukan perang yang membutuhkan senjata tombak ataupun meriam, juga bukan perang yang menjatuhkan darah sang musuh. Bahkan  peperangan  ini lebih dahsyat, perang melawan kebodohan, perang dengan pengorbanan jiwa dan raga juga konsentrasi otak, perang dengan senjata tabah,sabar  serta ikhlas untuk menghadapi berbagai  cobaan tembakan depan mata,. Karna pada